Senin, 27 Agustus 2012

Izinkanku Bermimpi...part 1

Hati ini begitu ingin terus bersama mereka, sahabat-sahabat yang selalu mencharge kembali semangatku yang hampir kendur. Mereka adalah orang-orang hebat yang selalu memeberikan semangat tersendiri dalam hidupku.
Sudah cukup lama aku mengenal sosok mereka. Meraka adalah orang-orang hebat yang dulu saat di bangku sekolah sama-sama berjuang untuk meraih segala impian. Impian-impian yang mungkin mendapat cercaan dari orang-orang sekitar. Namun, tak pernah ada kata putis asa dalam kamus hidup kami..Impian itu harus ada dan harus terus ada, dengan impian berarti kita telah berencana membangun masa depan, dengan impian kita mampu untuk terus berjuang. Man jadda wajadda, dengan segala kesungguhan impian itu pasti akan tergapai, meski entah kapan akan terjadi..

HAri itu, hari pertama aku dan teman sebangkuku memulai menyelami ketersesatan kami.. Ketersesatan yang akan membawa kami pada kehidupan yang lebih baik, ketersesatan yang akan memebawa kami lebih mengenal arti kehidupan dan mengenal manisnya Islam. Siang itu aku dan sahabatku, Ayu Savitri yang biasa aku panggi Ayu memutuskan untuk mengikuti Open Recruitmment salah satu organisasi kerohaniawan islam yang ada di SMA kami. Pengalaman ini sungguh langkah awal yang membuat aku takkan pernah melupakannya. 
Siang itu sungguh siang yang menyenangkan sekaligus menakutkan bagiku. Saat memasuki ruangan tes pertama, aku masih santai menghadapinya. YA, tes pertama ini aku diminta untuk membacakan mushaf Al-Qur'an. Sungguh sebuah tes yang memang menguji kemampuan dan mengetes kefasihan dalam membaca Al-Qur'an. Memang tes ini sungguh terlihat mudah, namun akan sangat terlihat pada orang-orang yang dalam kesehariannya jarang membaca Al-qur'an, mereka akan terlihat gugup dan sulit serta terbata-bata dalam membaca Al-Qur'an. Sungguh termasuk orang-orang yang merugi pabila dalam hidupnya tak pernah dihiasi dengan lantunan ayat-ayat Al-Qur'an. Padahal Allah telah menurunkan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup bagi umat manusia. Dalam Al-Qur'an pun telah tercatat berbagai peringatan bagi umat manusia "Sungguh telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk peringatan. Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?" (Q.S.Al-Qamar:17). Hmm..ironis memang, dijaman sekarang ini, berbagai macam tekhnologi canggih yang telah ada untuk memepelajari Al-Qur'an, justru banyak umat yang menjauh dari Al-Qur'an. 

Selesai tes pertama, kemudian aku memasuki tes kedua. Yups, tes kali ini tes adalah tes dalam kemampuan berbahasa. Aku sempat gugup ketika memasuki ruang tes itu, kucoba menarik nafas dalam. Kemudian, kakak kelas yang menguji memulai pembicaraan kami"
"Asslamu'alaikum"sapa Mba Ayi, ya nama kaka kelas yang mengujiku adalah Ayi.
"wa'alaikumsalam" jawabku singkat dengan sedikit senyuman
"Can You speak English?" tanyanya lagi
"Mmm...cuma sedikit mba" jawabku malu sambil menundukkan wajahku
"Oh, no problem" jawabnya kemudian
Obrolanpun berbahasa inggrispun berlangsung singkat. Aku dipersilahkan untuk melanjtkan tes selanjutnya.
 Ruang selanjutnya adalah Ruang untuk meguji Public Speaking. Aku diminta untuk membawakan sebuah tausiyah singkat. Hufh, sungguh aku sangat tak bisa untuk berceramah ketika itu. Dahulu aku bukanlah seorang yang dapat dengan mudah berbicara di depan umum. Aku sangat malu jika diminta berbicara di depan kelas. Dengan berbekan materi seadanya, aku coba..kebetulan saat itu aku mendapat materi mengenai kenalan remaja. MAteri yang cukup mudah untuk disampaikan. Kurang lebih 7 menit aku mengoceh yang tak jelas isinya, akupun akhirnya dipersilakan untuk melanjutkan tes.

Sampailah pada tes yang sangat berkesan bagiku. Entah apa yang sebenarnya memebuatku terkesan dari tes yang satu ini. Saat memasuki ruangan ini, aku sungguh sangat kaget mendengar teriakan-teriakan marah dari kakak tingkatku. Aku langsung dibentak oleh kakak tingkatku yang laki-laki, terlihat sepasang mata melototi aku dengan kacamata yang menempel serta disalah satu tangannya membawa sebuah alat pembersih debu.
"Sini kamu!" bentaknya sambil menunjuk ke arahku
Akupun langsung menuju ke arahnya
"Siapa nama kamu?" tanyanya dengan nada tinggi
"A..Alifah Dewi Purwaningsih, kak" jawabku agak gugup
"Kelas sepuluh apa kamu?" tanyanya lagi dengan nada agak sedikit rendah
"Sepuluh tiga, kak" jawabku
"APa?? Yang keras kalo jawab itu, jangan pelan. Gak kedengeran" bentaknya
"Kelas sepuluh tiga, kak" jawabku dengan nada sedikit meninggi
"Udah minus berapa kamu?"tanyanya basa-basi
"Minus 3, kak" jawabku sekenanya
"Kalo kacamatanya dilepas masih bisa liat, kan?"tanyanya lagi
"iyha, kak" jawabku singkat
Akupun melepas kacamataku dan kuberikan pada kakak kelasku itu. Tiba-tiba kakak kelasku yang lain menghentikan tindakan yang sedikit kasar yang dilakukan kakak tingkatku yang tadi
"heh, apa-apaan nda, kasihin kacamatanya. Anak orang, jangan digituin" ucapnya pada kakak kelasku yang tadi
"iyha, nti juga gua kasihin lagi kacamatanya"jawabnya
Dalam hati aku hanya berharap, kacamata itu kan segera dikembalikan oleh kakak Andi. Ya, nama kakak itu andi, kakak kelas yang sudah mamarahiku.
"awas kalo gak loe kasih" ancam kak Deny sambil berjalan keluar
Ya, kak Deny Apriliansyah. Kakak kelas itu yang akan memeberikan warna berbeda di masa SMA ku.
"udah kamu, keluar dari ruangan ini, kamu pergi ke kelas sepuluh lima" suruh kak andi
"iyha kak" jawabku sambil berjalan keluar tanpa kacamata kupakai. Sungguh sulit bagiku untuk berjalan tanpa kacamata. Tiba-tiba di jalan meneuju ruangan terakhir, aku bertemu lagi dengan kak Dedy
"Sudah dibalikin belum kacamatanya?"tanyanya
"belum, kak" jawabku sambil menunduk
"ya udah kamu ambil tas, terus keruangan yang terakhir"suruhnya
"iya kak" jawabku lagi

Di ruangan terakhir, kami semua, calon pengurus baru dipertemukan. Dan kakak kelas yang tadi memarahi kami meminta maaf atas perbuatannya tadi dan tak lupa kacamatakupun dikembalikannya.
HAri itu sungguh hari yang melelahkan sekaligus menyenangkan bagiku.

>>>>bersambung<<<<<<



Tidak ada komentar:

Posting Komentar